Skip to main content

UNTUK APA, DEMI APA?

Untuk Apa? Demi Apa?

USIANYA 30-an tahun. Datang ke Jakarta dari Solo, sejak 10-an tahun silam, bersangu ijazah SMP. Mulanya ikut paman dan saudara. Lalu bekerja sebagai penjahit di sebuah perusahaan konveksi. 

Dinihari itu, bersama dua teman seusia, dia menyelip di antara ratusan ribu orang. Shalat tahajjud dan subuh berjamaah, menjelang Maulid Akbar dan Reuni 212 di Monas. Tak bersongkok, bergamis atau baju koko. 'Cuma' berkaos dan celana hitam. Jeans. Celananya tak cingkrang. Di kepalanya terikat pita hitam kalimah tauhid – Laa ilaaha illallaah, muhammadurrasululullaah. 

“Kami tinggal di Grogol,” katanya. Kedua temannya melungker, tidur di atas hamparan plastik. Dia tampak lelah. Tapi berwajah cerah. Dia menjawab saya dengan ramah.

Senyumnya mengembang, saat saya tanya ngapain ke Monas pukul 01.45 itu - “Ya mau gabung saja, pak,” jawabnya. “Tapi ini kan jam tidur?” - “Bapak malah dari Samarinda. Jauh sekali. Jam segini pasti lebih perlu istirahat,” dia mengembalikan pertanyaan saya seraya tertawa. 

Akhirnya dia jawab juga. “Saya dari keluarga petani miskin. Tak bisa sekolah sampai SMA. Tak pandai. Hanya bisa mendukung. Kegiatan ini menurut saya baik. Maka saya dukung dengan datang dan bergabung”. 

Dekat Monas, seorang lelaki paruh baya bergerak ke beranda sebuah kedai Stasiun Gambir. Kursi-kursi penuh terisi. Dia lalu duduk di lantai. Seorang remaja, sedang makan mie instan dalam mangkuk plastik, segera berdiri, menyerahkan kursi yang barusan didudukinya kepada lelaki itu, dan pindah duduk ke lantai. Seekor kucing kurus mendekatinya. Kemudian, sambil terus makan, dia bagi mie instannya, kepada si kucing.
 
“Saya dari Palembang,” kata lelaki paruh baya tadi kepada seseorang usia sebaya di sampingnya. Datang ke Jakarta sendirian. Menginap di Masjid Istiqlal. Barang bawaan dia taruh di penitipan sandal-sepatu di lantai dasar masjid itu. “Ini pertama kali saya ke Jakarta. Reuni 212 saya ketahui dari siaran televisi”. Keduanya mengobrol. Tampak segera akrab. 

“Dari Palembang bapak naik apa?” 

“Naik bus. Pulang nanti mungkin menumpang truk. Tahukah bapak di mana menemukan truk-truk yang akan ke Palembang?” 

“Kenapa naik truk? Kenapa tidak naik bus lagi saja?” 

Lama dia terdiam. Kawan ngobrolnya mendesak. Lantas terungkaplah, uang di sakunya tinggal 67 ribu rupiah. Tak cukup untuk ongkos bus ke Palembang, 200 sampai 400 ribu rupiah. Mau jual HP, tak tahu di mana tempatnya.

“Bapak naik bus saja. Selain sulit mencarinya, naik truk belum tentu baik untuk orang seusia kita,” timpal si kawan ngobrol – tangannya yang tergenggam menyorong sejumlah uang. “Masyaallah! Ini banyak sekali!” Suara si lelaki paruh baya seperti berseru. 

Tentu berjibun kisah mereka yang hari itu berduyun ke Monas; bersepeda dari Balikpapan, berjalan kaki dari kota di Jawa Barat, naik bus atau kereta dari kota-kota di Jawa dan Sumatera, naik pesawat dari NTB, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, dari mana pun. Laki-laki-perempuan. Tua-muda. Remaja-kanak-kanak. Melenggang, berjalan dengan tongkat, atau duduk di kursi roda didorong sejawat. 

Saat shalat tahajjud dan subuh jumlah mereka sudah melampaui separuh luas pelataran Monas. Kemudian mulai berjejal menjelang terang tanah, ketika rombongan demi rombongan datang silih berganti. “Jangan menginjak taman!” - “Jangan membuang sampah di sembarang tempat!” - “Area ini dikhususkan untuk para akhwat, para ikhwan harap pindah ke area sebelah sana!” Begitu bunyi dari pengeras suara ulang-berulang, sejak pukul nol-nol. 

Seorang perempuan terjebak di lautan jamaah laki-laki. Dia tampak bingung. Sesudah berunding dengan beberapa orang di dekatnya, entah suami, adik, kakak, atau kerabat, dia pun bergerak memisahkan diri, menuju area bagi jamaah perempuan. 

Di beberapa titik terparkir oto-oto kakus serta tangki-tangki air yang dimodifikasi untuk keperluan wudhu. Juga beberapa ambulans. Pos polisi dan toilet di Stasiun Gambir pun terbuka bagi mereka. Ya untuk berwudhu, ya untuk buang hajat.

Di banyak titik lain berdiri posko-posko penyedia logistik. Menghidang minuman dan makanan aneka rupa, rasa, dan porsi. Gratis-tis-tis. Tinggal pilih mana yang disuka. Sebagian bahkan sampai ditawar-tawarkan, disorong-sorong. 

Memang aneh. Tidak ada yang berebut. Apalagi bertengkar demi makanan-minuman. Di toilet portabel orang-orang tertib mengantre. Tak pernah saya bayangkan, bagaimana orang-orang kebelet beol dan pipis mampu mengantre sepanjang dan selama itu. Saking panjangnya, sampai membentuk gerak lamban anaconda. Bagaimana mereka bisa berdamai sambil bertahan menghadapi tekanan kuat ‘arus bawah’ - hasrat bergelora untuk segera beol dan kencing!
  
Orang-orang ini jelas kurang syarat untuk dikait-kaitkan dengan radikalisme dan keonaran. Wong ‘radikalisme dan keonaran’ yang hanya beres di lubang kakus saja mereka alami dengan tetap menghargai hak orang lain, kok. Di sini petugas Komisi Pencegah Serobotan ke WC (jika ada) jelas bakal nganggur!
 
Usai shalat subuh saya berkeliling. Mengumpulkan bahan catatan dan gambar-gambar. Tak mudah keluar dari shaf sejarak 90-an meter dari panggung utama. Perlu meliuk-liuk menemukan sela. Kemudian melipir di batu pembatas taman. Meliuk-liuk lagi di antara shaf-shaf jamaah, melipir lagi, baru bisa berjalan rada melenggang di antara jamaah yang bergerombol-gerombol.
  
Saya terus bergerak tanpa kuatir luput materi dari panggung utama. Pengeras suara di mana-mana, walau sesekali diganggu kendala teknis. Tausiyah, doa-doa, seruan takbir, shalawat, dan lantunan kisah hidup Rasulullaah Muhammad SAW terus menggaung. Jamaah antusias, terlibat dalam shalawat dan syair-syair pengagungan. Bergemuruh. Ada pula orasi-orasi berisi kecaman terhadap penistaan simbol-simbol Agama, serta tuntutan pemulangan Habib Rizieq bin Husain Syihab dari Arab Saudi. Takbir sahut-menyahut. Berkobar.
  
Saya ‘bersyukur’ mengambil keputusan menjauh dari panggung utama, untuk memantau dan memotret ke sana-sini. Sebab sebentar kemudian arus massa terus tiba susul-menyusul, kian deras, hingga memenuhi hampir seluruh pelataran Monas.

Adegan-adegan ini pun terekam tustel dan HP saya, antara lain; Orang-orang tertidur. Tentara istirahat; Orangtua di kursi roda; Antrean di kakus-kakus bergerak; Remaja membentang bendera Palestina jembar; Jejalan massa di pintu masuk; dan seterusnya.

Siapa mereka? Untuk apa ini semua? Demi apa? Atas alasan apa? Bagi kepentingan apa? Politis? Di bagian mananya? Anti NKRI? Lha kok bermunajat bagi keutuhan dan kebesaran Negara dan Bangsa? Kok menyanyikan Indonesia Raya?

Dagang agama? Siapa yang menjual? Siapa yang membeli? Apa keuntungan materil bagi keduanya? Sudah saya cari-cari. Tak juga saya temukan pembagi 'uang transport' di sudut-sudut monumen depan Istana Negara ini. Yang saya ingat malah penjahit dari Solo dan lelaki paruh baya dari Palembang tadi. Orang-orang yang dengan segala keterbatasan datang sambil berperang melawan lelah dan kantuk. Mereka tentu sangat memerlukan 'laba' perdagangan itu, jika benar ada. 

Mau membangkangi pemerintah? Lha kok mendoakan kesehatan para pemimpin negeri? Kok mendoakan tentara dan polisi? Membela Agama? Bukankah di antara tugas pemerintah adalah juga membela Agama? Tidakkah membela Agama, dengan begitu, berarti membela pemerintah pula?

Di dekat pintu masuk, tak jauh dari 'gapura' metal detector, saya istirahat sebentar. Lumayan banyak polisi di sana. Beberapa akan sarapan. "Mari makan, pak," ajak seorang dari mereka. Saya menolak, insyaallah sesopan cara dia mengajak. Saya memilih makan sepiring ketoprak di luar pintu masuk.

Pukul 09.00, sambil menunggu kereta ke Jogja, dari lantai atas Stasiun Gambir pelataran Monas tampak sangat jelas. Orang-orang sudah bergerak pulang. Tak ada sampah berserakan. Semua terlihat bersih. Bersih sebersih-bersihnya. Kemudian terngianglah ucapan guru saya, empatpuluhan tahun silam, berkali-kali; "Kebersihan terwujud hanya oleh orang-orang berhati bersih".

Tidur sejam di rumah seorang kawan di Condet, pukul sepuluh sampai sebelas 1 Desember malam. Tapi mata saya nyalang sepanjang perjalanan Jakarta-Jogja, pagi hingga petang 2 Desember itu. Tampaknya telah saya temukan jawaban atas sedaftar pertanyaan tadi. Terutama tentang siapa saja belantara manusia di kaki Monas barusan. Wallaahua'lam. ***

Penulis: syafril Teha Noer

Comments

Popular posts from this blog

Jalan Provinsi Sukadana - Siduk Semakin Rusak

Jalan merupakan akses vital bagi warga masyarakat,  serta para pengguna jalan baik pejalan kaki, pengendara roda dua maupun pengendara roda empat,  saat ini tampak pada gambar kondisi jalan Provinsi jalur mulai dari desa sejahtera hingga ke siduk,  Desa Simpang Tiga kondisinya perlahan-lahan semakin rusak parah,  belum adanya tanda-tanda untuk perbaikan dari pihak yang berwenang yaitu dari Provinsi karena jalur jalan ini merupakan kewenangan tingkat provinsi, beberapa ruas jalan sudah ada yang aspal jalannya putus,  banyak lubang-lubang jalan yang cukup dalam sehingga sangat berbahaya bagi pengendara motor,  tidak jarang mobil-mobil yang amblas terkait kondisi jalan yang berlubang,  kondisi cuaca yang sering turun hujan juga menjadi faktor semakin parah kerusakan,  muatan-muatan mobil ekspedisi yang juga turut menyumbang keruskaan jalan,  karna beban berat yang mengakibatkan lubang-lubang jalan yang tadinya kecil-kecil menjadi semakin. Besar. Tidak hanya mengakibatkan amblas bagi mobi…

KRATOM AS A NATURAL HERBAL

Kratom plants grow a lot in several countries, one of them in my country, Indonesia.
This plant was first formally described by Dutch colonial botanist Pieter Korthals. Trees grow to a height of between 40 and 100 feet and can fall depending on the climate and environment where they have grown.
This Kratom plant is also nicknamed mitragyna speciosa which grows in tropical countries such as Thailand, the Philippines, Malaysia, Papua New Guinea, and including in Indonesia. Kratom was later widely known in the United States and several European countries because it was considered efficacious as a recreational medical alternative.
Because of the many benefits contained in Kratom, the kratom plant is also sold and marketed like a supplement in capsule and fine powder form. In addition to being labeled as a powerful herbal reliever for pain relief, kratom is also intended for users who want to get rid of drug addiction. In the world of medicine, a number of researchers recognize kratom as a…

Tanggapi keruskaan Jalan, Pemkab KKU Turunkan Alat Berat

Menanggapi kerusakan pada jalan Provinsi Sukadana - Siduk kini sudah dalam perbaikan,  sebuah alat berat diturunkan dan penambahan material berupa tanah merah serta bebatuan sudah cukup untuk memambal lubang-lubang jalan yang rusak,  sehingga potensi amblas bagi kendaraan roda 4 yang bermuatan berat bisa berjalan lancar,  dan pengendara lainnya sedikit lega karna lubang-lubang jalan sudah tertutupi. Meskipun sifatnya sementara waktu paling tidaknya sudah tertimbun lubang jalan yang rusak,  dengan harapan menunggu realisasi dari pihak provinsi untuk memperbaiki secara permanen